13/10/2026

SMAN 1 Sukasada Tak Sekadar Cetak Lulusan, Banyak Pintu Masa Depan Dibuka untuk Siswa

0
image

Dari beasiswa prestasi, bahasa Mandarin hingga peluang kuliah ke China dan sertifikasi keterampilan kerja, SMAN 1 Sukasada memperluas pilihan masa depan siswa di usia ke-24.

SUKASADA, IKLIKBALI – Masa depan siswa tidak selalu harus ditempuh melalui satu jalan. Ada yang mengejar prestasi akademik, ada yang menekuni olahraga dan seni, sebagian memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sementara lainnya mulai menyiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja.

Gagasan itulah yang kini coba diperkuat SMAN 1 Sukasada. Memasuki usia ke-24, sekolah ini tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi mulai membuka sebanyak mungkin pintu bagi siswa agar dapat berkembang sesuai kemampuan, minat, dan cita-citanya.

Beasiswa prestasi menjadi salah satu pintu yang dibuka sejak siswa masih berada di jenjang SMP. Mereka yang memiliki capaian sebagai juara umum di sekolah asal mendapat kesempatan memperoleh pembebasan biaya pendidikan ketika melanjutkan ke SMAN 1 Sukasada.

Skemanya dibuat berjenjang. Juara umum pertama memperoleh beasiswa selama tiga tahun, juara umum kedua selama dua tahun, sedangkan juara umum ketiga mendapatkan beasiswa selama satu tahun.

Bagi Kepala SMAN 1 Sukasada, Putu Suardana, S.Pd., M.Pd., prestasi siswa harus mendapatkan ruang dan penghargaan. Beasiswa tersebut sekaligus menjadi cara sekolah untuk menjaga semangat berprestasi agar tidak berhenti ketika siswa berpindah jenjang pendidikan.

“Prestasi akademik harus kami apresiasi. Harapannya, anak-anak semakin termotivasi untuk belajar dan terus mengembangkan dirinya,” ujar Putu Suardana saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/9).

Namun, sekolah menyadari bahwa kemampuan seorang siswa tidak bisa diukur hanya dari angka di rapor. Karena itu, potensi olahraga, seni, budaya hingga keterampilan juga menjadi bagian yang terus digarap.

Di titik inilah karakter pendidikan SMAN 1 Sukasada dibangun. Budaya lokal tetap menjadi pijakan, tetapi siswa juga didorong memiliki kemampuan yang relevan dengan perubahan zaman.

“Anak-anak yang datang ke SMA Negeri 1 Sukasada memang memiliki jiwa budaya dan olahraga yang kuat. Potensi itu kami gali kembali. Kami kemas dengan sentuhan modern agar budaya tetap hidup, sekaligus anak-anak mampu mengikuti tuntutan global,” jelasnya.

Mandarin Jadi Jalan Menuju China

Upaya membuka cakrawala siswa bahkan diarahkan hingga ke tingkat internasional. Salah satunya melalui pembelajaran bahasa Mandarin yang dikembangkan bersama perguruan tinggi, termasuk Undiksha dan Harbin University.

Tidak sekadar belajar teori, siswa mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan native speaker. Program ini kini telah memasuki pembelajaran Mandarin level dua yang dilaksanakan setiap Sabtu.

Yang membuat program tersebut semakin menarik, penguasaan bahasa Mandarin diarahkan untuk membuka peluang yang lebih jauh: pendidikan di China melalui jalur beasiswa.

“Tahun ini anak-anak baru masuk level dua. Kami berharap dan berdoa semoga ada yang mampu menembus China melalui peluang beasiswa tersebut,” ungkap Putu.

Dengan demikian, bahasa asing tidak hanya ditempatkan sebagai mata pelajaran tambahan. Bagi sekolah, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal sekaligus jembatan bagi siswa untuk melihat kesempatan pendidikan yang lebih luas di luar negeri.

Ekonomi Keluarga Tak Boleh Menutup Jalan Pendidikan

Pintu kesempatan juga dibuka bagi siswa yang menghadapi persoalan ekonomi.

SMAN 1 Sukasada menjalankan program beasiswa subsidi silang berupa keringanan biaya pendidikan sebesar 50 persen selama tiga tahun bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Sekolah terlebih dahulu melakukan survei terhadap kondisi ekonomi keluarga sebelum menetapkan penerima bantuan. Pada tahun ajaran ini, sebanyak 38 siswa mendapatkan dukungan melalui program tersebut.

Program ini menjadi salah satu bentuk upaya sekolah agar kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk tetap melanjutkan pendidikan.

“Jangan sampai kondisi ekonomi menjadi alasan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Karena itu, kami melakukan survei terlebih dahulu agar bantuan benar-benar diberikan kepada yang membutuhkan,” katanya.

Tak Semua Harus Menunggu Gelar untuk Punya Bekal Kerja

Jalur lain juga disiapkan bagi siswa yang ingin memiliki keterampilan praktis. SMAN 1 Sukasada menggandeng lembaga pelatihan pariwisata H2B untuk memberikan pelatihan culinary, housekeeping, hospitality, dan bartender.

Program ini tidak berhenti pada teori. Siswa mendapatkan delapan kali pelatihan di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan empat kali praktik langsung di industri.

Setelah menjalani uji kompetensi, siswa memperoleh sertifikat keterampilan. Sertifikat tersebut menjadi nilai tambah ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun ketika mulai mencari pekerjaan.

Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah siswa SMAN 1 Sukasada bahkan telah diterima bekerja di restoran dan penginapan dengan membawa bekal sertifikat keterampilan tersebut.

“Beberapa siswa kami sudah diterima bekerja di restoran dan penginapan dengan bekal sertifikat keterampilan yang mereka dapatkan dari program ini,” ungkap Putu.

Membuka Banyak Jalan, Bukan Memaksa Satu Tujuan

Rangkaian program tersebut memperlihatkan arah pendidikan yang ingin dibangun SMAN 1 Sukasada. Sekolah tidak memaksakan satu ukuran keberhasilan kepada seluruh siswanya.

Ada ruang bagi mereka yang unggul secara akademik. Ada tempat bagi siswa yang memiliki kekuatan di olahraga, seni dan budaya. Ada kesempatan bagi mereka yang ingin mengejar pendidikan ke luar negeri. Ada pula bekal keterampilan bagi siswa yang ingin lebih cepat mengenal dunia kerja.

Putu Suardana menilai, tugas sekolah bukan hanya mengajar, tetapi menemukan potensi yang kadang belum terlihat dan kemudian memberikan ruang agar potensi tersebut tumbuh.

“Kami ingin memunculkan sekecil apa pun sumber daya yang ada, baik dari anak-anak maupun guru. Semua potensi itu kami kembangkan agar anak-anak memiliki bekal yang kuat untuk masa depannya,” tegasnya.

Memasuki usia ke-24, SMAN 1 Sukasada seolah sedang memperluas peta perjalanan bagi para siswanya. Budaya tetap menjadi akar, pendidikan menjadi fondasi, sementara kemampuan bahasa asing dan keterampilan menjadi bekal menghadapi dunia yang terus berubah.

Dari ruang kelas, siswa bisa melangkah menuju prestasi. Dari prestasi terbuka peluang beasiswa. Dari bahasa Mandarin terbuka kemungkinan menuju China. Dari keterampilan terbuka kesempatan masuk industri.

Pada akhirnya, sekolah tidak hanya berbicara tentang bagaimana siswa lulus, tetapi tentang berapa banyak pilihan yang bisa mereka bawa ketika meninggalkan bangku sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *