13/10/2026

Dekranasda Buleleng Perkuat Komitmen Kembangkan Wastra dan UMKM Lokal

0
image

Wastra Hitakara Jadi Momentum Perajin Naik Kelas, Dekranasda Dorong Penguatan Kreativitas hingga Pemasaran

SINGARAJA, IKLIKBALI – Pengembangan wastra tidak cukup hanya dengan menjaga kelestarian tradisi. Lebih dari itu, kekayaan budaya yang diwariskan harus mampu berkembang menjadi produk bernilai ekonomi, memiliki daya saing, dan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menembus pasar yang lebih luas. Semangat inilah yang mengemuka dalam Fashion Road Show Dekranasda Provinsi Bali bertema “Wastra Hitakara” di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Kamis (8/10).

Bagi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Buleleng, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan perajin, desainer, model, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dukungan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Buleleng dalam menjaga identitas budaya daerah sembari membuka ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan industri fashion berbasis potensi lokal.

Ketua Dekranasda Kabupaten Buleleng, Ny. Wardhany Sutjidra, menegaskan bahwa wastra memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar produk sandang. Di dalamnya terdapat identitas, nilai, dan kekayaan budaya yang perlu dipahami serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun, pelestarian tersebut harus berjalan beriringan dengan upaya pengembangan agar wastra tetap relevan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Karena itu, kita harus mampu memahami apa yang kita miliki, kemudian mengembangkan dan mempromosikannya sehingga tidak hanya menjadi warisan yang kita jaga, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Wardhany, Buleleng memiliki potensi perajin dan UMKM yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif daerah. Potensi tersebut perlu ditopang pembinaan berkelanjutan, mulai dari peningkatan keterampilan produksi, kreativitas desain, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga memiliki kesiapan untuk bersaing di tengah perkembangan industri fashion.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan usaha sebaiknya dimulai dari kekuatan yang telah dimiliki masing-masing daerah. Perajin tidak harus selalu meniru tren dari luar, melainkan dapat menggali karakter dan keunikan lokal untuk menghasilkan produk yang mempunyai ciri khas.

“Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh. Kita lihat apa yang sudah kita miliki, mana yang perlu dikembangkan dan mana yang perlu ditingkatkan, karena masing-masing daerah mempunyai kekuatan dan potensinya sendiri. Buleleng juga harus mampu mengembangkan apa yang menjadi kekuatan kita,” tegasnya.

Bukan Sekadar Peragaan, tetapi Ruang untuk Naik Kelas

Bagi Dekranasda Buleleng, tantangan pengembangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang. Perajin juga perlu dibekali wawasan agar mampu membaca peluang pasar, mengikuti perkembangan desain, membangun identitas produk, dan memperluas jaringan pemasaran. Pendampingan menjadi penting agar pelaku usaha yang telah memiliki keterampilan dapat meningkatkan kapasitas dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Wardhany berharap Fashion Road Show tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi berkembang menjadi ruang promosi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Kegiatan serupa diharapkan mampu mempertemukan potensi perajin dengan peluang industri fashion sekaligus mendorong tumbuhnya kepercayaan diri pelaku UMKM untuk mengembangkan produknya.

“Jangan hanya berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi bagaimana kegiatan-kegiatan berikutnya juga bisa menjadi ruang untuk mempromosikan karya kita. Kita memiliki cukup banyak perajin dan UMKM yang potensial. Memang ada yang sudah mampu, tetapi masih ada yang perlu kita buka wawasannya, sehingga kualitasnya bisa ditingkatkan dan mereka bisa naik kelas,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan wastra membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan promosi. Diperlukan kesinambungan antara pembinaan, peningkatan kualitas produk, penguatan merek, dan perluasan akses pasar agar potensi lokal dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Pembinaan dari Daerah, Peluang Lebih Luas di Tingkat Provinsi

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, menekankan pentingnya pembinaan yang dimulai dari kabupaten/kota. Menurutnya, daerah memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi dan mempersiapkan perajin, desainer, serta model potensial sebelum mereka memperoleh kesempatan untuk berkembang pada tingkat yang lebih luas.

Pembinaan di daerah akan memudahkan Dekranasda Provinsi Bali menjaring talenta yang telah memiliki dasar kemampuan dan kesiapan untuk mengikuti berbagai kesempatan pengembangan. Dengan pola tersebut, potensi lokal tidak hanya tumbuh di wilayah asalnya, tetapi juga berpeluang tampil dan bersaing di panggung yang lebih besar.

“Harapan titiang, tolong bina UMKM kita, bina para desainer kita, bina para model kita, sehingga titiang di Provinsi Bali lebih mudah kemudian mengajaknya setelah dibina di kabupaten. Ketika kabupaten/kota sudah membina, titiang lebih mudah untuk menjaringnya dan memberikan kesempatan untuk melompat lebih jauh,” ungkap Ny. Putri Koster.

Arahan tersebut menjadi dorongan bagi Dekranasda Buleleng untuk memperkuat pola pembinaan yang terarah dan berkesinambungan. Kolaborasi antara kabupaten dan provinsi diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi pelaku UMKM, sekaligus memperluas ruang bagi desainer dan model lokal untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan Ekonomi Kreatif

Melalui Fashion Road Show bertema “Wastra Hitakara”, pengembangan kerajinan daerah diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Wastra tidak hanya diposisikan sebagai simbol warisan leluhur, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi lahirnya karya kreatif yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Bagi Buleleng, langkah tersebut menjadi peluang untuk memperkuat identitas kerajinan lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan masyarakat. Dengan pembinaan yang konsisten, inovasi desain, penguatan branding, dan pemasaran yang lebih luas, perajin serta UMKM diharapkan semakin siap menghadapi persaingan.

Komitmen ini menempatkan pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi kreatif sebagai dua hal yang saling menguatkan. Wastra tetap berakar pada tradisi, sementara kreativitas dan inovasi membuka jalan agar karya perajin Buleleng semakin dikenal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (rls/pemkab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *