Vakum Hampir Empat Dekade, Tradisi Maulid Agung dan Gelar Klatkat Kembali Digelar di Celukanbawang
Wabup Gede Supriatna bersama Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya hadir dalam perayaan yang menjadi momentum kebangkitan tradisi, penguatan silaturahmi, dan pelestarian kerukunan masyarakat.
SINGARAJA, IKLIKBALI – Setelah tidak digelar sejak 1987, tradisi Maulid Agung Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Syukuran Warga Kampung Gelar Klatkat kembali dilaksanakan di Desa Celukanbawang, Kecamatan Gerokgak, Sabtu (10/10). Kembalinya tradisi ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat setempat dalam menghidupkan kembali warisan budaya dan mempererat persaudaraan lintas generasi.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Banjar Dinas Celukanbawang tersebut dihadiri Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya. Kehadiran kedua pejabat daerah itu menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan sekaligus upaya masyarakat mempertahankan tradisi yang memiliki nilai kebersamaan.
Kembali terselenggaranya perayaan ini tidak hanya menjadi ajang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan sosial yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Semangat warga dalam menghidupkan kembali tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai warisan leluhur tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat Celukanbawang yang kembali menyelenggarakan tradisi setelah puluhan tahun vakum. Menurutnya, kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan serta memperkuat rasa persaudaraan di tengah keberagaman.
“Pemerintah Kabupaten Buleleng sangat mengapresiasi kebangkitan kembali tradisi ini. Selain menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, momentum ini juga penting untuk mempererat silaturahmi, menjaga kerukunan, dan mewariskan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Ia berharap, kembalinya pelaksanaan Maulid Agung dan Syukuran Gelar Klatkat dapat menjadi awal keberlanjutan tradisi pada masa mendatang. Dengan dukungan masyarakat dan seluruh pihak terkait, tradisi tersebut diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari kekayaan sosial dan budaya Kabupaten Buleleng.
Kebangkitan tradisi di Celukanbawang ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan kerukunan merupakan fondasi penting dalam menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis. Setelah vakum sejak 1987, perayaan tahun 2026 menjadi langkah baru untuk merawat warisan bersama sekaligus memperkuat identitas masyarakat setempat.
