Panjat Tebing Jadi Ladang Bibit Atlet Muda Buleleng, Pemanduan Bakat Sasar Pelajar se-Kecamatan
Disdikpora, KONI dan FPTI Buleleng bersinergi menjaring potensi atlet sejak usia sekolah untuk membangun pembinaan yang berkelanjutan.
SINGARAJA. IKLIKBALI – Upaya menemukan dan mengembangkan talenta olahraga sejak usia sekolah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng. Kali ini, cabang olahraga panjat tebing menjadi salah satu fokus penjaringan melalui kegiatan Sosialisasi dan Pemanduan Bakat Panjat Tebing 2026 yang menyasar pelajar serta guru olahraga di seluruh kecamatan.
Kegiatan tersebut secara resmi dimulai di Ruang Rapat KONI Kabupaten Buleleng, Selasa (1/9), dengan pelaksanaan perdana untuk Zona Tengah. Kegiatan diikuti guru olahraga jenjang sekolah dasar dari Kecamatan Buleleng, Sukasada, dan Banjar.
Mewakili Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Sekretaris Dinas Luh Putu Adi Ariwati, S.E., M.Pd., hadir sekaligus membuka kegiatan. Ia menilai pemetaan bakat sejak dini menjadi fondasi penting untuk memastikan anak-anak yang memiliki potensi olahraga memperoleh pembinaan sesuai kemampuan mereka.
Menurut Adi Ariwati, potensi atlet tidak selalu muncul dari lingkungan yang sudah memiliki tradisi olahraga. Karena itu, proses penjaringan perlu diperluas hingga ke sekolah-sekolah di berbagai wilayah agar kesempatan berkembang dapat dirasakan lebih merata.
“Pemanduan bakat ini sangat penting sebagai langkah dini untuk mencari atlet-atlet muda panjat tebing dari berbagai pelosok di seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng. Dengan pembinaan yang dilakukan sejak dini, diharapkan dapat melahirkan atlet berprestasi untuk mengharumkan nama Buleleng di masa mendatang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mencetak atlet berprestasi membutuhkan proses panjang. Setelah bakat ditemukan, anak perlu memperoleh program latihan yang tepat, pendampingan, kesempatan mengikuti pertandingan, serta evaluasi secara berkala.
Dalam konteks tersebut, guru olahraga dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa di sekolah. Guru dapat menjadi mata dan telinga pertama dalam menemukan siswa yang menunjukkan kemampuan fisik, koordinasi, keberanian, maupun ketertarikan terhadap cabang olahraga tertentu.
“Jangan sampai ada anak yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi tidak pernah diketahui karena tidak ada proses penjaringan. Sekolah dan guru olahraga memiliki peran penting untuk membuka jalan agar bakat tersebut bisa ditemukan dan dikembangkan,” tambahnya.
Adi Ariwati juga menekankan bahwa keberhasilan pembinaan atlet membutuhkan kerja bersama. Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Disdikpora, KONI, pengurus cabang olahraga, sekolah, dan tenaga pendidik harus memiliki langkah yang selaras sehingga proses pembinaan dapat berlangsung dari tingkat dasar hingga prestasi.
“Kita ingin potensi anak-anak Buleleng tidak berhenti karena tidak ditemukan atau tidak mendapatkan kesempatan. Melalui kerja sama pemerintah daerah, KONI, cabang olahraga dan sekolah, kita berharap semakin banyak anak yang memiliki bakat bisa mendapatkan ruang untuk berkembang,” imbuhnya.
Program pemanduan bakat panjat tebing ini berlangsung mulai Agustus hingga Desember 2026. Pelaksanaannya dirancang menjangkau seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng dengan pembagian wilayah atau zona, sehingga proses penjaringan dapat dilakukan secara lebih terarah dan menjangkau lebih banyak sekolah.
Untuk Zona Tengah, sosialisasi menjadi tahap awal untuk memberikan pemahaman kepada guru olahraga mengenai mekanisme pemanduan sekaligus teknik dasar dalam mengenali potensi siswa pada cabang olahraga panjat tebing.
Selanjutnya, siswa yang menunjukkan potensi dapat diarahkan untuk mengikuti tahapan pembinaan dan pengembangan sesuai hasil identifikasi. Dengan pola tersebut, proses pencarian atlet tidak hanya berorientasi pada menemukan bakat, tetapi juga memastikan adanya jalur pembinaan setelah bakat tersebut ditemukan.
Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Buleleng, Dr. H. Wahjoedi, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pembibitan atlet panjat tebing di Buleleng. Menurutnya, semakin dini atlet dikenalkan dan diarahkan, semakin besar peluang untuk membentuk kemampuan yang matang.
FPTI Kabupaten Buleleng juga menyiapkan kompetisi khusus bagi atlet pemula. Event tersebut diharapkan menjadi sarana bagi atlet muda untuk menguji kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman bertanding.
“Pemanduan bakat harus memiliki kelanjutan. Setelah anak-anak ditemukan, mereka harus diberikan ruang untuk berlatih dan berkompetisi. Dari sana kita bisa melihat perkembangan mereka dan menentukan bentuk pembinaan yang paling sesuai,” jelas Wahjoedi.
Program tersebut diharapkan mampu membentuk pola pembinaan yang lebih sistematis, mulai dari sekolah sebagai tempat penjaringan awal, organisasi olahraga sebagai pengembang bakat, hingga KONI dan pemerintah daerah sebagai bagian dari penguatan pembinaan prestasi.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, Buleleng diharapkan memiliki semakin banyak pilihan talenta olahraga yang dapat dipersiapkan menghadapi kompetisi di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga jenjang yang lebih tinggi.
Kegiatan Sosialisasi dan Pemanduan Bakat Panjat Tebing 2026 turut dihadiri Analis Kebijakan Ahli Muda Subkoordinator Pembibitan dan Prestasi Olahraga Nyoman Omy Anggreni, S.Sos., M.A.P., Sekretaris Umum KONI Kabupaten Buleleng Dr. S.M. Fernanda Iragraha, S.Pd., M.Or., serta jajaran FPTI Kabupaten Buleleng.
Melalui kegiatan ini, pembinaan olahraga di Buleleng diharapkan tidak hanya berorientasi pada prestasi saat ini, tetapi juga menyiapkan regenerasi atlet secara berkelanjutan. Panjat tebing pun diharapkan menjadi salah satu cabang olahraga yang mampu membuka jalan bagi generasi muda Buleleng untuk mengukir prestasi di masa depan.
