25/08/2026

Bulfest 2026 Ajak Publik Bernostalgia, Singaraja Tempo Dulu Dihidupkan Kembali

0
547584


Mengusung tema Uriping Rasa, Buleleng Festival 2026 menghadirkan suasana kota lama, kuliner legendaris, seni tradisi, 105 UMKM, hingga pertunjukan musik modern untuk menghidupkan kembali sejarah dan kebanggaan Singaraja sebagai kota tua Bali Utara.

SINGARAJA, IKLIKBALI – Jejak kejayaan Singaraja sebagai eks-ibu kota Sunda Kecil akan kembali dihadirkan melalui Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Selama enam hari, 18–23 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Buleleng mengajak masyarakat dan wisatawan menikmati kembali atmosfer Singaraja tempo dulu melalui perpaduan sejarah, budaya, kuliner, seni, serta kreativitas masyarakat.

Mengangkat tema filosofis “Uriping Rasa”, Bulfest 2026 tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi dirancang sebagai ruang untuk menghidupkan kembali rasa, cerita, sekaligus identitas Buleleng. Nuansa masa lalu akan dikemas dalam pengalaman yang dekat dengan generasi sekarang, termasuk melalui sajian kuliner legendaris dan berbagai ornamen bernuansa vintage.

Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG menegaskan, pelaksanaan Bulfest tahun ini memiliki makna lebih luas karena berkaitan dengan upaya membangun kembali kebanggaan masyarakat terhadap perjalanan sejarah Bali Utara.

Hal tersebut disampaikan Sutjidra saat menggelar jumpa pers bersama puluhan awak media di Rumah Makan Soenda Ketjil, Singaraja, Jumat (14/8).

“Buleleng ini memiliki rekam jejak yang sangat kuat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan masa lalu. Melalui Bulfest 2026, kami tidak hanya menghadirkan nuansa fisik kota lama, tetapi menyalakan kembali ‘Uriping Rasa’—rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa cinta terhadap warisan leluhur. Kami mengundang seluruh masyarakat untuk merasakan kembali romantisme Singaraja tempo dulu,” tegas Bupati Sutjidra.

Zona Buleleng Tempo Dulu Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu titik utama Bulfest 2026 berada di Zona A atau Area Buleleng Tempo Dulu. Kawasan ini membentang mulai dari Tugu Singa Ambara Raja, Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha, hingga kawasan bersejarah Soenda Ketjil.

Konsep yang ditawarkan bukan sekadar dekorasi, tetapi pengalaman bernuansa masa lalu. Pengunjung akan menemukan bioskop tempo dulu, pasar tradisional rakyat, permainan anak-anak zaman dahulu, parade seni jalanan, hingga kuliner legendaris khas Bali Utara.

Seluruh pengalaman tersebut dikemas dengan konsep etalase vintage untuk menghadirkan atmosfer Singaraja pada masa lalu sekaligus menjadi ruang interaksi antara sejarah dan kehidupan masa kini.

105 UMKM Terlibat, Ekonomi Kreatif Jadi Bagian Penting

Bulfest 2026 juga menjadi ruang bagi pelaku ekonomi kerakyatan. Sebanyak 105 UMKM terkurasi akan ambil bagian dengan menampilkan produk kriya, kuliner olahan lokal, fesyen, serta berbagai produk ekonomi kreatif unggulan.

Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, mengatakan keterlibatan UMKM dan komunitas seni menjadi bagian penting dalam konsep festival tahun ini.

Menurutnya, Bulfest dibagi menjadi tiga zona terpadu, yakni kawasan heritage tempo dulu, zona creative space anak muda, dan zona budaya berkelanjutan.

“Kami membagi festival ke dalam tiga zona terpadu, mulai dari kawasan heritage tempo dulu, zona creative space anak muda, hingga zona budaya berkelanjutan. Seluruh lapak UMKM di zona sejarah didesain dengan estetika vintage agar selaras dengan narasi Buleleng masa lalu,” ujar Ariadi.

Konsep tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat identitas festival, tetapi juga memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan masyarakat selama Bulfest berlangsung.

Puluhan Kelompok Seni hingga KLa Project

Dari sisi pertunjukan, Bulfest 2026 akan melibatkan lebih dari 60 kelompok kesenian daerah dan musik modern.

Sejumlah pertunjukan kolosal akan menjadi bagian dari rangkaian acara, di antaranya Tari Trunajaya, Wiranjaya, dan Palawakya yang melibatkan ratusan penari dari berbagai sanggar di Buleleng.

Pertunjukan tersebut akan dipadukan dengan atraksi gong kebyar legendaris dan drama gong. Sementara untuk menjangkau selera generasi muda, sejumlah grup musik turut dijadwalkan tampil, seperti KLa Project, Dialog Dini Hari, Lolot, dan White Swan.

Perpaduan seni tradisi dan musik modern ini menjadi salah satu cara Bulfest 2026 menjembatani kekayaan budaya masa lalu dengan perkembangan kreativitas generasi saat ini.

200 Personel Disiapkan Setiap Hari

Untuk memastikan pelaksanaan festival berjalan aman dan nyaman, Pemkab Buleleng menyiapkan sekitar 200 personel keamanan gabungan setiap hari.

Personel tersebut terdiri dari unsur TNI, Polri, Satpol PP, serta Pecalang. Selain pengamanan, pengaturan lalu lintas dan parkir juga menjadi perhatian selama enam hari pelaksanaan.

Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng bersama Polres dan Desa Adat Buleleng telah menyiapkan rekayasa lalu lintas serta sejumlah kantong parkir strategis guna mengantisipasi kepadatan kendaraan di sekitar lokasi festival.

Melalui konsep yang memadukan sejarah, budaya, kuliner, UMKM, dan hiburan modern, Bulfest 2026 diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali memori kejayaan Singaraja sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Lebih dari sekadar festival tahunan, perhelatan ini diarahkan untuk memperkuat posisi Singaraja sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya yang memiliki karakter kuat di Bali Utara.

I’m

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *