Bukan Sekadar Kenyang, di Balik Adu Lahap Nasi Lawar Misol Ada Misi Lestarikan Kuliner Bali
Bukan Sekadar Adu Lahap, Lomba di Pemaron Ini Bawa Misi Merawat Kuliner Tradisional Buleleng
SINGARAJA, IKLIKBALI – Lima porsi nasi campur babi berada di hadapan setiap peserta. Nasi, lawar putih, lawar plek, paru goreng, serapah hingga komoh tersaji lengkap. Di depan mereka, waktu terus berjalan.
Hanya 15 menit.
Begitu perlombaan dimulai, suasana di Warung Nasi Lawar Misol, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, Minggu (23/8), sontak berubah riuh. Para peserta berlomba menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Ada yang melaju cepat sejak menit pertama, ada pula yang mulai kewalahan ketika memasuki porsi berikutnya.
Sebanyak 23 peserta mengikuti lomba makan tersebut. Tidak semuanya berasal dari Buleleng. Dua peserta bahkan datang dari Denpasar untuk ikut merasakan tantangan menyantap nasi lawar khas Buleleng dalam waktu terbatas.
Namun, di balik keseruan adu lahap itu, ada cerita lain yang ingin disampaikan penyelenggara.
Lomba tersebut digelar bukan semata-mata untuk mencari siapa yang paling kuat makan. Warung Nasi Lawar Misol ingin menjadikan kegiatan itu sebagai cara sederhana untuk memperkenalkan kembali kuliner tradisional Bali kepada generasi muda.
Ketika Lawar Bertemu Generasi Muda
Pemilik sekaligus penyelenggara lomba, Gede Fajar Satriawan, melihat perubahan pola makan generasi muda sebagai sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Makanan praktis dan frozen food kini semakin mudah ditemukan. Namun, menurut Fajar, perkembangan tersebut tidak semestinya membuat makanan tradisional kehilangan tempat.
“Kami ingin generasi muda tetap mengenal makanan tradisional. Sekarang banyak yang lebih mengenal makanan praktis dan frozen food. Itu perkembangan zaman, tetapi kuliner seperti lawar juga harus terus diperkenalkan dan diwariskan,” ujar Fajar.
Bagi masyarakat Bali, lawar bukan sekadar hidangan yang disantap bersama nasi. Di dalamnya terdapat proses, kebersamaan dan tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Hal itulah yang menurut Fajar ingin tetap dipertahankan.
“Lawar bukan sekadar makanan. Ada semangat gotong royong dan kebersamaan. Makanan ini juga bisa merekatkan hubungan. Karena itu kami ingin generasi muda tetap mengenal lawar,” katanya.
Melalui perlombaan, nilai tersebut coba diperkenalkan dengan pendekatan yang lebih ringan. Generasi muda tidak hanya diajak mengenal lawar sebagai makanan tradisional, tetapi juga melihatnya sebagai bagian dari identitas kuliner daerah.
Lima Porsi, 15 Menit
Aturan perlombaan dibuat sederhana. Setiap peserta memperoleh lima porsi nasi campur babi dan diberi waktu 15 menit.
Tidak ada kewajiban untuk menghabiskan seluruh hidangan. Peserta yang merasa tidak sanggup melanjutkan diperbolehkan berhenti. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah makanan yang berhasil dihabiskan.
Sebelum lomba dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan di lokasi.
Di atas meja, lima porsi makanan menjadi tantangan masing-masing peserta.
Bagi sebagian peserta, tiga porsi saja sudah cukup menjadi ujian.
Komang Aditrayasa, peserta asal Desa Suwug, Kecamatan Sawan, misalnya. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba makan. Dalam waktu yang tersedia, ia berhasil menghabiskan tiga porsi.
Menurut Aditrayasa, tantangan mulai terasa ketika menyantap lawar plek dalam jumlah banyak. Meski demikian, ia tetap menikmati hidangan yang disediakan.
“Sebenarnya coba-coba saja. Masakannya enak. Saya sebenarnya hanya kekurangan waktu,” tuturnya.
Peserta lainnya, Kadek Bayu Suteja asal Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, masih menyisakan sekitar satu setengah porsi ketika waktu berakhir.
Bayu juga baru pertama kali mengikuti lomba makan lawar. Ia mengaku sempat kesulitan ketika memasuki porsi ketiga, tetapi tetap menikmati pengalaman tersebut.
Menariknya, Bayu merupakan seorang yang menekuni olahraga muaythai. Jika biasanya ia harus menjaga pola makan menjelang pertandingan, kali ini ia justru mendapat kesempatan untuk makan dalam jumlah lebih banyak.
“Kalau ikut lomba muaythai biasanya diet. Sekarang tidak ada lomba, rasanya seperti balas dendam makan banyak,” ujarnya sembari tertawa.
Cita Rasa yang Menjadi Identitas
Bagi Warung Nasi Lawar Misol, memperkenalkan lawar juga berarti memperkenalkan karakter kuliner Buleleng.
Fajar menjelaskan, lawar di setiap kabupaten di Bali memiliki ciri khas masing-masing. Buleleng pun mempunyai racikan tersendiri.
Salah satunya adalah lawar nyuh yang dipadukan dengan daging cincang dan sayur kacang panjang. Bumbu suna cekuh dan bumbu genep rajang menjadi bagian dari racikan yang memberikan karakter rasa tersendiri.
“Setiap kabupaten memiliki ciri khas lawarnya masing-masing. Buleleng juga mempunyai karakter tersendiri, mulai dari bahan yang digunakan sampai racikan bumbunya,” jelas Fajar.
Karakter itulah yang ingin terus dipertahankan. Sebab, ketika sebuah makanan tradisional tetap dikenal, di sana ikut terjaga pula cerita dan identitas budaya yang menyertainya.
Adu Lahap dengan Pesan Pelestarian
Lomba ini memang menyediakan hadiah. Juara pertama memperoleh Rp1,5 juta, juara kedua Rp1 juta, dan juara ketiga Rp700.000. Peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp100.000.
Tetapi bagi penyelenggara, hadiah bukanlah satu-satunya tujuan.
Adu lahap selama 15 menit itu menjadi cara sederhana untuk menghadirkan lawar dalam suasana yang berbeda. Dari meja perlombaan, kuliner tradisional Buleleng kembali diperbincangkan, dinikmati dan dikenalkan kepada generasi yang lebih muda.
Fajar berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga kuliner tradisional tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.
“Harapan kami lawar tetap dikenal dan dicintai. Bukan hanya oleh generasi yang sudah terbiasa makan lawar, tetapi juga oleh anak-anak muda. Kalau mereka mengenal rasanya dan tahu cerita di balik makanan ini, akan lebih mudah bagi kita menjaga kuliner tradisional Buleleng,” pungkas Fajar.
