13/10/2026

Buleleng Catat Karhutla Terluas di Bali, 159 Hektare Lebih Lahan Terbakar

0
image

Mayoritas Kebakaran Berada di Kawasan Hutan, BPBD Bali Dorong Penguatan Mitigasi Menghadapi Kemarau

SINGARAJA, IKLIKBALI – Musim kemarau 2026 membawa ancaman serius terhadap kawasan hutan dan lahan di Kabupaten Buleleng. Hingga 2 September 2026, luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Buleleng telah mencapai 159,07 hektare, sekaligus menjadi yang terbesar dibandingkan wilayah lain di Provinsi Bali.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, sepanjang 11 April hingga 2 September 2026 terdapat sedikitnya 196 hektare kawasan hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Bali. Dari total tersebut, lebih dari 159 hektare berada di Buleleng.

Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, menyampaikan bahwa tingginya luasan karhutla di Buleleng menjadi perhatian karena sebagian besar lokasi yang terdampak merupakan kawasan hutan.

“Untuk karhutla, yang paling luas di Buleleng, 159,07 hektare,” ujar Suryawan, Sabtu, 5 September 2026.

Dari luasan tersebut, sekitar 153,42 hektare berada pada kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas (HPT). Sedangkan kebakaran yang terjadi pada lahan pribadi tercatat sekitar 5,65 hektare.

Jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya, luasan karhutla Buleleng cukup mencolok. Di Klungkung, kebakaran tercatat melanda 15 hektare kawasan hutan di Kecamatan Nusa Penida serta 2 hektare lahan kosong di Kecamatan Gunaksa.

Kemudian di Karangasem, total lahan yang terbakar mencapai 8,10 hektare. Sebanyak 6 hektare berada di Kecamatan Kubu, sementara 2,10 hektare lainnya merupakan lahan kosong di Kecamatan Abang yang tersebar di Desa Sukadana, Desa Dukuh, dan Desa Labasari.

Kebakaran lahan kosong di Jembrana tercatat seluas 8,05 hektare. Sedangkan di Bangli, karhutla yang terjadi di Kecamatan Kintamani mencapai 3,83 hektare.

Lokasi Pengelolaan Sampah Ikut Jadi Perhatian

Risiko kebakaran selama musim kemarau juga menyentuh kawasan pengelolaan sampah. BPBD Provinsi Bali mencatat terdapat tiga kejadian kebakaran pada lokasi pengelolaan sampah sepanjang periode pencatatan tersebut.

“BPBD Bali mencatat tiga kejadian kebakaran di lokasi pengelolaan sampah,” kata Suryawan.

Di Buleleng, salah satu kejadian terjadi di TPST 3R Banjar Dinas Antapura, Desa Tejakula, pada 15 Juli 2026.

Sementara di Karangasem, kebakaran melanda TPST 3R Culik, Desa Labasari, Kecamatan Abang, pada 7 Juli 2026. Kebakaran tersebut berdampak pada area sekitar 10 are.

Kejadian lainnya berlangsung di TPA Suwung, Denpasar Selatan, pada 22 Agustus 2026. Luasan area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 2 are.

Suryawan menjelaskan, karakteristik musim kemarau tahun ini yang berlangsung lebih panjang dan kering membuat potensi kebakaran semakin tinggi. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bukan hanya bagi pengelola kawasan hutan dan lahan, tetapi juga pengelola tempat pemrosesan maupun pembuangan sampah.

“Musim kemarau yang lebih panjang dan kering tentu meningkatkan kerawanan terhadap kebakaran. Karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan, khususnya pada wilayah yang memiliki material mudah terbakar dan tingkat kerentanan tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kemarau harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi. Menurutnya, langkah penanganan tidak boleh hanya berorientasi pada respons ketika kebakaran sudah meluas atau ketika masyarakat mulai mengalami krisis air.

“Ke depan, penguatan kesiapsiagaan perlu diarahkan pada ketersediaan dan perlindungan sumber air, peningkatan kapasitas infrastruktur, penguatan sistem pemantauan, serta koordinasi lintas sektor,” ungkapnya.

Penguatan mitigasi juga dinilai penting untuk wilayah dengan tingkat kerawanan kekeringan dan kebakaran yang tinggi. Pemetaan wilayah rawan, pemantauan kondisi lapangan, serta kesiapan sumber daya menjadi bagian penting dalam menekan dampak kebakaran.

“Potensi kekeringan dan kebakaran perlu dikelola sejak dini melalui pendekatan yang semakin berbasis mitigasi, pengurangan risiko, dan ketahanan,” pungkas Suryawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *