13/10/2026
image

Dari ruang pertunjukan di Jepang, dosen Institut Mpu Kuturan itu menemukan cara berbeda membaca desa, tradisi, dan ruang hidup masyarakat Bali Utara

SINGARAJA, IKLIKBALI – Ada perjalanan yang jaraknya ribuan kilometer, tetapi justru membuat seseorang melihat tanah kelahirannya dengan cara yang berbeda.

Hal itu dialami I Putu Ardiyasa, S.Sn., M.Sn., dosen Institut Mpu Kuturan (IMK), setelah mengikuti Intersecting Peripheries 2026 di Toyooka, Prefektur Hyogo, Jepang, 18–24 September 2026.

Ia datang ke Toyooka untuk bertemu dengan seniman dan produser seni pertunjukan dari berbagai negara Asia. Namun, yang dibawanya pulang bukan hanya pengalaman tentang seni pertunjukan Jepang atau perjumpaan dengan pelaku seni dari negara lain.

Ada pertanyaan yang justru semakin kuat setelah ia berada jauh dari Buleleng.

Di mana sebenarnya ruang seni itu berada?

Pertanyaan tersebut muncul ketika Ardiyasa melihat bagaimana seni di Toyooka tidak selalu ditempatkan di balik dinding gedung pertunjukan.

Desa menjadi ruang seni. Jalan bisa menjadi tempat perjumpaan. Pasar, kawasan stasiun, kampus hingga ruang publik lainnya dapat berubah menjadi tempat bertemunya karya, seniman dan masyarakat.

Di sana, seni tidak berdiri sendiri.

Ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Melihat yang dekat dari tempat yang jauh

Toyooka dan Buleleng tentu bukan dua wilayah yang sama. Jepang memiliki sejarah, sistem sosial dan kebudayaan yang berbeda dengan Bali.

Namun, justru dalam perbedaan tersebut Ardiyasa menemukan satu titik perjumpaan.

Keduanya sama-sama memiliki desa, masyarakat, tradisi, lanskap dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan kebudayaan.

“Intersecting Peripheries bagi saya bukan hanya tentang bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Program ini membuat saya menemukan bahwa wilayah-wilayah periferi yang berbeda ternyata memiliki pertanyaan yang serupa,” ujar Ardiyasa.

Pertanyaan itu menyentuh hal yang cukup mendasar: bagaimana seni dapat tumbuh di luar pusat kebudayaan, bagaimana masyarakat menjadi bagian dari ekosistem kesenian, serta bagaimana pengetahuan lokal tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dihidupkan.

Dari Toyooka, ia kemudian teringat pada ruang-ruang yang selama ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Buleleng.

Bale banjar.

Desa.

Pasar.

Jalan.

Ruang pendidikan.

Tempat-tempat yang setiap hari dilewati masyarakat.

Bisa jadi, kata Ardiyasa, ruang-ruang tersebut selama ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan seni. Hanya saja, belum selalu dibaca sebagai sebuah ekosistem kebudayaan.

“Ruang seni tidak selalu harus dibangun terlebih dahulu untuk kemudian diisi oleh karya. Bisa jadi, ruang seni telah ada dalam kehidupan masyarakat, di bale banjar, desa, pasar, jalan, ruang pendidikan, atau tempat-tempat yang setiap hari dilewati masyarakat,” jelasnya.

Masyarakat bukan sekadar penonton

Bagi Ardiyasa, pemikiran tersebut penting ketika berbicara mengenai pengembangan seni di Buleleng.

Sebagai Kaprodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu IMK, ia melihat masyarakat memiliki posisi yang lebih besar daripada sekadar menjadi penonton sebuah pertunjukan.

Masyarakat adalah pemilik pengetahuan.

Masyarakat adalah pelaku tradisi.

Sekaligus bagian dari proses penciptaan kebudayaan.

Pandangan itu sejalan dengan apa yang ia amati selama mengikuti Toyooka Theater Festival. Festival tersebut tidak sekadar menghadirkan pertunjukan, tetapi mempertemukan seniman, masyarakat, institusi pendidikan, ruang publik dan lingkungan sosial.

Batas antara panggung dan kehidupan masyarakat menjadi lebih cair.

Pengalaman tersebut kemudian membuat Ardiyasa membaca kembali potensi Buleleng.

Bali Utara memiliki kehidupan desa yang kuat, berbagai tradisi, komunitas seni, festival, lanskap budaya serta institusi pendidikan. Semua itu sebenarnya dapat menjadi bagian dari ekosistem seni yang terus berkembang.

Tetapi, ia tidak melihat pengalaman Jepang sebagai sebuah model yang harus disalin begitu saja.

Justru sebaliknya.

Buleleng harus menemukan caranya sendiri.

Periferi bukan berarti tanpa nilai

Istilah periferi atau wilayah pinggiran mungkin selama ini sering dipahami sebagai posisi yang berada jauh dari pusat.

Namun, pengalaman Ardiyasa di Toyooka membuat pengertian tersebut menjadi lebih terbuka.

Berada di luar pusat tidak berarti tidak memiliki nilai.

Justru wilayah yang jauh dari pusat dapat menyimpan pengalaman, pengetahuan dan cara pandang yang berbeda.

Desa menyimpan ingatan.

Tradisi menyimpan pengetahuan.

Lanskap menyimpan cerita.

Masyarakat menyimpan pengalaman.

Dan seni dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan semuanya.

“Dari tradisi hingga kesenian kontemporer, banyak praktik kebudayaan di Buleleng lahir bukan dari ruang yang sepenuhnya formal. Ia tumbuh dari perjumpaan antargenerasi, dari ingatan masyarakat, dari lingkungan, serta dari ruang-ruang sosial yang terus bergerak mengikuti zaman,” ungkap Ardiyasa.

Kalimat itu menjadi penting karena pengembangan kebudayaan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, ia justru dimulai dari kemampuan melihat kembali sesuatu yang sudah ada.

Dari Toyooka kembali ke ruang kelas

Perjalanan tersebut juga tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi.

Sebagai dosen, Ardiyasa membawa pengalaman Toyooka kembali ke lingkungan akademik.

Perjumpaan dengan seniman dan produser dari berbagai negara memberinya perspektif baru mengenai seni pertunjukan, produksi karya, pengembangan komunitas hingga pengelolaan pengetahuan kebudayaan.

Pengalaman lapangan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa, sekaligus membuka kemungkinan penelitian dan kolaborasi lintas negara.

“Bagi kami, keterlibatan dosen dalam forum internasional semacam ini juga membuka ruang bagi penguatan jejaring akademik dan kebudayaan. Pengalaman lapangan dapat menjadi bahan pembelajaran, sementara jejaring yang terbentuk dapat membuka peluang kerja sama di masa mendatang,” katanya.

Dengan begitu, perjalanan menuju Toyooka tidak benar-benar berakhir ketika Ardiyasa meninggalkan Jepang.

Ia berlanjut dalam ruang kelas, dalam percakapan dengan mahasiswa, dalam gagasan penelitian, dan mungkin dalam bentuk kolaborasi seni yang suatu saat tumbuh di Buleleng.

Pulang dengan cara pandang berbeda

Pada akhirnya, perjalanan ke Toyooka membawa Ardiyasa pada sebuah kesadaran sederhana.

Untuk menemukan sesuatu yang baru, seseorang tidak selalu harus mencari tempat yang benar-benar asing.

Kadang, perjalanan jauh justru diperlukan agar kita mampu melihat kembali sesuatu yang selama ini terlalu dekat untuk diperhatikan.

Buleleng memiliki desa, tradisi, komunitas, lanskap dan ruang sosial yang terus hidup.

Tantangannya adalah bagaimana semua itu tidak hanya dipandang sebagai latar belakang kebudayaan, tetapi dibaca sebagai ruang yang memiliki kemampuan untuk melahirkan gagasan dan karya.

Toyooka memberinya pengalaman tentang bagaimana sebuah wilayah periferi membangun ekosistem seni dari kehidupan masyarakatnya.

Buleleng memiliki cerita dan kekuatannya sendiri.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Buleleng memiliki ruang untuk seni.

Melainkan, seberapa jauh ruang-ruang yang sudah hidup itu mampu dibaca, dirawat dan dikembangkan menjadi bagian dari masa depan kebudayaan Bali Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *