13/10/2026

Mahfud MD Bekali Mahasiswa Pascasarjana IMK: SDM Hindu Harus Kompeten, Berkarakter dan Mengabdi

0
image

Nilai Pancasila dan ajaran Hindu dinilai dapat menjadi fondasi dalam membentuk generasi unggul yang profesional, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial

SINGARAJA, IKLIKBALI – Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Moh. Mahfud MD, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) Hindu yang tidak hanya unggul dari sisi akademik, tetapi juga kuat dalam karakter, spiritualitas, integritas, profesionalisme, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Mahfud MD ketika menjadi pemateri kuliah umum pada rangkaian Matrikulasi Program Pascasarjana Institut Mpu Kuturan (IMK) di Kampus Menjangan, Banyuning, Singaraja, Selasa (1/9).

Mengangkat tema “Pancasila sebagai Sumber Hukum dan Fondasi Keadilan Sosial: Menuju SDM Hindu yang Unggul dan Berkarakter”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara Pancasila, hukum, keadilan sosial, serta pembangunan karakter sumber daya manusia.

Dalam pemaparannya, Mahfud menjelaskan bahwa Pancasila tidak sebatas landasan konstitusional negara, melainkan juga mengandung nilai moral dan pandangan hidup yang perlu diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Menurutnya, nilai tersebut memiliki titik temu dengan berbagai prinsip dalam ajaran Hindu, seperti Ahimsa, Tat Twam Asi, Vasudhaiva Kutumbakam, Loka Samgraha, dan Dana.

Ia menilai perpaduan nilai tersebut dapat menjadi kekuatan dalam membangun sistem hukum sekaligus kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan identitas bangsa.

“Pancasila menjadi dasar untuk memadukan nilai-nilai yang baik sehingga hukum Indonesia tetap mencerminkan keadilan, kepentingan bersama, dan karakter bangsa,” ujar Mahfud.

Mahfud juga menjelaskan mengenai konsep prismatika hukum, yaitu pendekatan yang memungkinkan Indonesia mengambil dan memadukan nilai-nilai positif dari berbagai gagasan kenegaraan, namun tetap disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan kondisi bangsa sendiri.

Dalam konteks pembangunan SDM Hindu, Mahfud kemudian menguraikan tujuh karakter penting yang perlu dikembangkan mahasiswa. Ketujuhnya meliputi Sraddha sebagai spiritualitas, Dharma yang berkaitan dengan moralitas dan tanggung jawab, Vidya berupa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Satya sebagai kejujuran dan integritas, Karma yang mencerminkan profesionalisme, Loka-samgraha berupa kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, serta Seva yang bermakna pengabdian.

Menurut Mahfud, pendidikan tinggi seharusnya tidak berhenti pada pencapaian akademik. Kompetensi keilmuan perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter sehingga lulusan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

“SDM unggul bukan hanya yang pintar, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, kemampuan bekerja, serta kemauan untuk mengabdi kepada masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, mahasiswa Pascasarjana memiliki posisi strategis sebagai kelompok terdidik yang nantinya diharapkan mampu menjadi bagian dari penyelesaian berbagai persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, penguasaan ilmu harus dibarengi dengan tanggung jawab moral dan kesadaran untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan bersama.

Rektor IMK Prof. Dr. I Gede Suwindia, M.A., menyambut positif kehadiran Mahfud MD dalam kegiatan matrikulasi tersebut. Ia menyebut kuliah umum ini memberikan pengalaman akademik sekaligus perspektif kebangsaan yang penting bagi mahasiswa Pascasarjana.

Menurut Suwindia, dialog dengan tokoh nasional seperti Mahfud MD menjadi momentum bagi mahasiswa untuk melihat persoalan hukum, Pancasila, keadilan sosial, dan pembangunan SDM dari perspektif yang lebih luas.

“Kami merasa terhormat atas kehadiran Prof. Mahfud MD. Kehadiran beliau menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memperkaya wawasan mengenai Pancasila, hukum, keadilan sosial, dan pembangunan sumber daya manusia,” ungkap Suwindia.

Ia menegaskan, program matrikulasi memiliki peran penting sebelum mahasiswa memasuki proses pembelajaran Pascasarjana secara penuh. Selain membantu menyamakan pemahaman, matrikulasi juga menjadi tahapan untuk memperkuat kesiapan akademik mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang beragam.

“Melalui matrikulasi, kami ingin mahasiswa memiliki fondasi akademik yang kuat dan siap mengikuti proses pendidikan dengan baik,” kata Suwindia.

Dengan menghadirkan materi yang memadukan perspektif hukum, Pancasila, nilai-nilai Hindu, dan pembangunan karakter, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas akademik mahasiswa Pascasarjana IMK, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa keunggulan sumber daya manusia harus selalu disertai integritas dan pengabdian.

Mahasiswa diharapkan mampu menjadi insan terdidik yang memiliki kompetensi sesuai bidang keilmuan, tetap berpegang pada nilai moral dan spiritual, serta mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *