Menjemput Masa Depan Olahraga Buleleng dari Lumbanan
Jalan Menuju Sport Center Mulai Dibuka, 16 Pemilik Lahan Masuk Pendataan dan Dukungan CSR Rp1 Miliar Jadi Pengungkit Pembebasan Lahan
SINGARAJA, IKLIKBALI – Sebuah kawasan olahraga tak cukup hanya dibangun dengan menyediakan lahan. Ada jalan yang harus dibuka, ada ruang yang harus disiapkan, dan ada kesepakatan yang harus dibangun bersama masyarakat. Hal itulah yang kini menjadi pekerjaan penting dalam rencana pembangunan Sport Center di Lingkungan Lumbanan, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Setelah sempat berhenti dalam pembahasan selama kurang lebih satu tahun, rencana pembukaan akses menuju kawasan Sport Center kembali bergerak. Pemerintah bersama KONI Buleleng dan masyarakat mulai masuk pada tahapan pendataan, survei, pengukuran hingga pemetaan bidang tanah yang berpotensi terdampak.
Pertemuan kembali digelar Kamis (10/9) malam di Ruang Rapat KONI Buleleng. Ketua Umum KONI Buleleng, Gede Supriatna, memimpin pembahasan yang diikuti sekitar 16 pemilik lahan. Pertemuan ini menjadi titik awal untuk memastikan persoalan akses yang selama ini menjadi salah satu pekerjaan rumah pembangunan Sport Center dapat diselesaikan secara terukur.
Bukan Sekadar Jalan Masuk
Kawasan Sport Center Lumbanan direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 5,7 hektare. Lahan tersebut merupakan aset Pemerintah Provinsi Bali yang telah dihibahkan kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk pembangunan kawasan olahraga.
Namun, tersedianya lahan utama belum otomatis membuat kawasan tersebut siap digunakan. Akses dari jalan raya menuju lokasi masih membutuhkan bidang tanah masyarakat. Karena itu, penyelesaian akses menjadi bagian penting sebelum kawasan olahraga tersebut benar-benar dapat dikembangkan.
Jalur yang direncanakan memiliki panjang sekitar 650 meter. Badan jalan yang sebelumnya dirancang sekitar enam meter kini diusulkan menjadi delapan meter. Ditambah kebutuhan ruang drainase, lebar lahan yang diperlukan diperkirakan mencapai sekitar 10 meter.
Jika dihitung berdasarkan panjang dan kebutuhan lebar tersebut, luas lahan yang diperkirakan diperlukan mencapai sekitar 6.500 meter persegi atau 0,65 hektare.
Gede Supriatna mengatakan, pihaknya kembali membuka ruang dialog dengan masyarakat untuk melanjutkan pembahasan yang sempat terhenti.
“Kami mengundang masyarakat untuk melanjutkan diskusi yang sempat terjeda setahun lalu terkait pembukaan akses jalan menuju lahan Sport Center. Harapannya ada titik temu terkait pembebasan lahan untuk akses jalan tersebut,” ujar Supriatna.
CSR Rp1 Miliar Jadi Pengungkit
Di tengah proses tersebut, muncul dukungan dari pengusaha asal Buleleng, I Gusti Ngurah Anom atau Cok Krisna. Ia menyiapkan dana CSR sebesar Rp1 miliar untuk membantu proses pembebasan lahan akses menuju Sport Center.
Dukungan tersebut sebelumnya direncanakan untuk pembangunan sirkuit. Namun, kebutuhan pembangunan akses menuju Sport Center kemudian membuat dana CSR tersebut diarahkan untuk membantu proses pembebasan lahan.
Dewan Kehormatan KONI Buleleng, I Ketut Wiratmaja, mengatakan keberadaan dana tersebut membuat kepastian mengenai bidang tanah yang terdampak menjadi semakin penting. Pengukuran diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam menentukan lahan maupun luas bidang masing-masing pemilik.
“Intinya, dengan adanya CSR Rp1 miliar ini, kami membutuhkan kepastian siapa yang terkena dan berapa luas lahannya. Setelah dilakukan pengukuran, akan terlihat siapa yang terkena dan berapa luas lahan yang dibutuhkan. Setelah itu kita akan bicara soal tali asih kepada warga,” terang Wiratmaja.
Dari sekitar 16 pemilik lahan yang masuk pendataan, satu pemilik tidak dapat hadir dalam pertemuan karena sakit. Namun, proses pendataan dan persiapan pengukuran tetap berjalan.
Masyarakat Menjadi Bagian dari Proses
Pembebasan lahan bukan sekadar persoalan angka dan bidang tanah. Ada masyarakat yang memiliki hak atas lahan tersebut sehingga prosesnya harus dilakukan melalui komunikasi dan kesepakatan.
Tahapannya pun tidak langsung pada pemberian tali asih. Proses akan dimulai dari sosialisasi, inventarisasi, persetujuan pengukuran, survei dan pengukuran, penyusunan daftar nominatif, musyawarah pengadaan, pemecahan sertifikat, penyerahan tali asih hingga penyerahan lahan.
Masyarakat yang hadir dalam pertemuan telah menyetujui langkah awal berupa survei, pengukuran dan pemetaan. Dengan demikian, pemerintah dan KONI memiliki dasar yang lebih jelas untuk melanjutkan tahapan berikutnya.
Cok Krisna menegaskan, dukungan yang diberikan tidak didasari kepentingan pribadi. Ia melihat pembangunan Sport Center sebagai bagian dari upaya mendorong perkembangan olahraga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Lumbanan.
“Saya berjuang untuk Buleleng, apalagi untuk olahraga. Saya lahir di Buleleng. Jangan pesimis, harus optimistis,” tegasnya.
Ia berharap keberadaan akses dan Sport Center nantinya mampu menciptakan aktivitas baru di kawasan tersebut.
“Saya tidak mempunyai kepentingan pribadi. Ini untuk memajukan Buleleng. Anggap saja CSR ini sebagai bentuk sumbangan untuk masyarakat Lumbanan. Harapannya Bali Utara bisa semakin berkembang,” ujarnya.
Dari Lumbanan untuk Bali Utara
Pembangunan Sport Center Lumbanan pada akhirnya bukan hanya tentang membangun tempat olahraga. Di balik rencana tersebut terdapat harapan untuk menghadirkan ruang pembinaan atlet, aktivitas olahraga, sekaligus pergerakan ekonomi baru.
Karena itu, akses sepanjang 650 meter tersebut menjadi lebih dari sekadar jalan menuju sebuah kawasan olahraga. Jalan itu menjadi penghubung antara aset yang sudah tersedia dengan rencana besar pengembangan olahraga Buleleng.
Kini, tahapan awal telah dimulai. Survei, pengukuran dan pemetaan lahan menjadi pekerjaan berikutnya. Dari proses inilah kepastian mengenai lahan masyarakat akan diperoleh, sebelum pembahasan tali asih dan tahapan pengadaan lahan dilanjutkan.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas PUTR Perkim Buleleng, Kepala BKAD Buleleng, perwakilan BPN Buleleng, Plt. Camat Sukasada, Lurah Sukasada, Kaling Lumbanan, Kelian Desa Adat Lumbanan, serta jajaran Dewan Kehormatan KONI Buleleng.
Statement penutup: Sport Center Lumbanan kini tidak lagi berhenti pada sebatas rencana. Dengan lahan utama yang telah tersedia, dukungan CSR Rp1 miliar, serta kesediaan masyarakat mengikuti proses pengukuran, jalan menuju pusat olahraga baru Buleleng mulai menemukan jalurnya.
