13/10/2026

Jembatan Banyuasri Dikebut, Pemkab Buleleng Bidik Rampung Sebelum Puncak Musim Hujan

0
image

Progres awal sekitar 10 persen, bagian bawah jembatan menjadi prioritas agar konstruksi utama dapat segera dikerjakan

SINGARAJA, IKLIKBALI – Pembangunan jembatan di kawasan Integrated Farming Banyuasri, Kabupaten Buleleng, memasuki fase yang menentukan. Pemerintah Kabupaten Buleleng mendorong percepatan pekerjaan agar bagian bawah jembatan dapat diselesaikan sebelum intensitas hujan meningkat, sementara keseluruhan proyek ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna turun langsung melihat kondisi pengerjaan di lokasi, Senin (7/9). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai target, sekaligus mengantisipasi tantangan konstruksi yang berpotensi muncul ketika musim hujan tiba.

Kawasan Integrated Farming Banyuasri menjadi salah satu titik yang membutuhkan perhatian khusus karena debit air di lokasi dapat meningkat cukup signifikan saat hujan. Kondisi tersebut membuat penyelesaian struktur bawah jembatan menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda terlalu lama.

Sutjidra meminta penyedia jasa memanfaatkan waktu yang tersedia secara maksimal. Ia menargetkan konstruksi bagian bawah jembatan sudah dapat dituntaskan pada November sehingga pekerjaan berikutnya tidak terlalu terganggu oleh kondisi cuaca.

“Ini strategis sekali, mengingat musim hujan akan datang. Sebaiknya pada bulan November, konstruksi bagian bawahnya sudah harus selesai,” ujar Sutjidra.

Dari hasil peninjauan dan laporan penyedia jasa, perkembangan pembangunan saat ini masih berada di tahap awal. Progres pekerjaan diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, dengan kegiatan utama masih berkutat pada proses pengeringan area di bawah jembatan.

Tahap pengeringan menjadi salah satu pekerjaan penting karena area konstruksi berhubungan langsung dengan kondisi aliran air. Setelah kondisi tersebut dapat dikendalikan, pembangunan dapat dilanjutkan menuju tahapan struktur utama jembatan.

“Progresnya ini mungkin baru sekitar 10 persen. Jadi yang paling krusial ini untuk pengeringan di bawahnya,” kata Sutjidra.

Beton Pracetak untuk Kejar Waktu

Untuk mengejar target penyelesaian, pembangunan jembatan akan memanfaatkan metode beton pracetak. Penggunaan material tersebut menjadi salah satu strategi konstruksi agar proses pembangunan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Metode tersebut dinilai relevan dengan kondisi proyek yang memiliki tantangan waktu, terutama karena pekerjaan harus berhadapan dengan perubahan cuaca menjelang musim hujan.

“Nanti pakai beton pracetak,” ujar Sutjidra.

Percepatan bukan semata-mata ditujukan untuk mengejar penyelesaian administrasi proyek. Bagi pemerintah daerah, keberadaan jembatan memiliki fungsi penting terhadap keberlanjutan aktivitas di kawasan Integrated Farming.

Dengan akses yang lebih baik, kawasan tersebut diharapkan dapat semakin mudah dijangkau dan dikembangkan sebagai ruang yang mengintegrasikan aktivitas pertanian, fasilitas publik, serta potensi kegiatan ekonomi dan wisata.

“Targetnya bukan hanya jembatan selesai, tetapi bagaimana infrastruktur ini nantinya dapat mendukung pengembangan kawasan secara keseluruhan. Karena itu, pekerjaan harus dipastikan tepat waktu dan tetap memperhatikan kualitas,” ujar Sutjidra.

Beriringan dengan Rencana Panjat Tebing Internasional

Di balik pembangunan jembatan, kawasan Integrated Farming Banyuasri juga disiapkan untuk memiliki fasilitas olahraga baru. Pemerintah Kabupaten Buleleng berencana membangun sarana panjat tebing berskala internasional di area yang berada tidak jauh dari lokasi proyek.

Fasilitas tersebut direncanakan berada di sisi kanan lahan Integrated Farming milik Pemkab Buleleng. Rencana ini menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang telah dituangkan dalam master plan.

Sutjidra memastikan pembangunan jembatan tidak akan mengganggu rencana penataan kawasan maupun keberadaan fasilitas panjat tebing yang telah direncanakan.

Justru, pemerintah berharap kedua pekerjaan dapat berjalan secara bersamaan sehingga ketika jembatan selesai, pembangunan fasilitas pendukung kawasan juga telah menunjukkan perkembangan yang signifikan.

“Mudah-mudahan ini bisa paralel, simultan, fasilitas panjat tebingnya selesai, jembatan juga selesai,” ujar Sutjidra.

Rencana tersebut juga mendapat dukungan dari organisasi panjat tebing di Buleleng, terutama dalam hal pengendalian dan pemanfaatan teknis fasilitas untuk kegiatan olahraga panjat tebing.

Jika terealisasi, fasilitas bertaraf internasional itu berpotensi memberikan fungsi lebih luas bagi kawasan Integrated Farming Banyuasri. Selain menjadi sarana latihan dan pengembangan atlet, fasilitas tersebut dapat membuka peluang penyelenggaraan kegiatan olahraga berskala lebih besar di Buleleng.

Sementara itu, jembatan yang tengah dibangun akan menjadi bagian penting dari konektivitas kawasan. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mendukung akses masyarakat sekaligus memperkuat rencana pengembangan Integrated Farming sebagai kawasan terpadu.

Dengan batas waktu pengerjaan hingga Desember 2026, Pemkab Buleleng kini mendorong penyedia jasa untuk mengejar progres, khususnya menyelesaikan pekerjaan bagian bawah sebelum musim hujan mencapai intensitas tinggi.

Perpaduan antara infrastruktur akses dan fasilitas pendukung diharapkan dapat menjadikan kawasan Integrated Farming Banyuasri tidak hanya berfungsi sebagai kawasan pertanian, tetapi berkembang menjadi ruang multifungsi yang memiliki nilai ekonomi, olahraga, dan aktivitas masyarakat.(rls/ard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *