13/10/2026

Jembatan Baru Jinengdalem-Penglatan, Harapan Petani untuk Akses yang Lebih Dekat

0
image

Dibangun Bertahap Sejak 2018, Jembatan Dusun Tingkih Kerep Kini Pangkas Jalur Warga dan Buka Akses Menuju Lahan Pertanian

SINGARAJA, IKLIKBALI – Selama bertahun-tahun, perjalanan warga Jinengdalem menuju Penglatan harus ditempuh dengan jalur memutar. Kini, akses itu menjadi lebih singkat setelah sebuah jembatan berdiri di Dusun Tingkih Kerep, Desa Jinengdalem. Bukan sekadar penghubung dua wilayah, jembatan tersebut menjadi harapan baru bagi petani untuk membawa hasil pertanian dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.

Jembatan menuju Jalan Usaha Tani tersebut resmi diresmikan pada Minggu (6/9). Memiliki panjang sekitar enam meter dan lebar empat meter, jembatan ini menghubungkan wilayah Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, dengan Desa Penglatan.

Keberadaan jembatan memberikan perubahan bagi mobilitas masyarakat. Jalur yang sebelumnya mengharuskan warga memutar kini dapat dipangkas melalui akses baru tersebut. Bagi petani, kemudahan ini menjadi penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas menuju lahan serta pengangkutan hasil pertanian.

Perbekel Jinengdalem Ketut Mas Budarma mengatakan, pembangunan akses tersebut bukanlah proses yang singkat. Upaya membuka jalur tembus menuju Penglatan telah dimulai sejak 2018, diawali dengan pembebasan lahan dan pembangunan akses secara bertahap.

Menurutnya, keberadaan jembatan kini membuat perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien.

“Biasanya memutar, jembatan ini memotong jalur lagi, mempercepat,” katanya.

Manfaat serupa dirasakan dari sisi sektor pertanian. Ketua HKTI Kabupaten Buleleng Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG, mengatakan jembatan tersebut dapat membantu petani dalam menjalankan berbagai aktivitas pertanian, termasuk membawa hasil panen dan produksi pertanian dari satu desa ke desa lainnya.

Pria yang akrab disapa Dokter Caput ini menilai akses infrastruktur seperti jembatan merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pertanian.

“Dengan hadirnya jembatan ini sangat positif sekali. Justru hal inilah yang selama ini dibutuhkan oleh mereka,” ujarnya.

Di balik berdirinya jembatan tersebut, terdapat semangat gotong royong masyarakat yang ikut mendorong proses pembangunannya. Sebagian besar pembangunan dilakukan melalui swadaya masyarakat yang secara bertahap berupaya membuka akses penghubung antarwilayah.

Ketua HKTI Bali Made Muliawan Arya mengapresiasi kegigihan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, semangat masyarakat menjadi bagian penting hingga jembatan akhirnya dapat terealisasi meskipun masih membutuhkan penyempurnaan.

“Titiang menganggap ini murni swadaya masyarakat. Titiang terharu bahwa masyarakat gigih berjuang sehingga jembatan ini terealisasi, walaupun belum 100 persen,” katanya.

Pria yang akrab disapa De Gajah itu menyampaikan, pihaknya akan turut mengawal proses penyempurnaan jembatan. Koordinasi akan dilakukan bersama pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat agar kebutuhan masyarakat terhadap akses tersebut dapat ditindaklanjuti.

“Kita di sini bukan berebut untuk mencari nama. Kita bersinergi bersama-sama bagaimana bisa merealisasikan jembatan ini dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak,” tegasnya.

Kini, jembatan di Dusun Tingkih Kerep tidak hanya menjadi bangunan penghubung antara Jinengdalem dan Penglatan. Lebih dari itu, akses tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan masyarakat dan semangat gotong royong mampu membuka jalan baru bagi aktivitas ekonomi warga.

Bagi para petani, jembatan ini diharapkan tidak hanya memangkas jarak perjalanan, tetapi juga memperlancar mobilitas menuju lahan, distribusi hasil pertanian, serta memperkuat konektivitas antarwilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *