13/10/2026

World Cleanup Day 2026, Buleleng Bergerak dari Kota hingga Desa: Sampah Dipilah dari Sumber

0
image

Ribuan warga, aparatur, pelajar hingga unsur TNI/Polri turun serentak. Gerakan Jumat Bersih didorong menjadi kebiasaan, bukan sekadar agenda tahunan.

SINGARAJA, IKLIKBALI – Suasana kawasan perkotaan Singaraja tampak berbeda pada Jumat (4/9/2026) pagi. Sejak pukul 07.00 WITA, sejumlah titik dipenuhi aktivitas gotong royong. Aparatur pemerintah, TNI/Polri, BUMD, pelajar hingga masyarakat turun langsung membersihkan lingkungan sekaligus memilah sampah dari sumbernya.

Aksi tersebut digelar Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam rangka memperingati World Cleanup Day (WCD) 2026. Tidak hanya menyasar satu kawasan, gerakan kebersihan dibagi ke dalam enam zonasi dengan melibatkan instansi dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki wilayah binaan masing-masing.

Sejumlah kawasan permukiman padat menjadi sasaran, mulai dari Kampung Singaraja, Kampung Bugis, Kampung Kajanan, Kampung Baru, Kampung Anyar, Kaliuntu hingga Banyuning.

Yang menjadi perhatian dalam gerakan kali ini bukan sekadar seberapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan. Pemkab Buleleng mulai menekankan perubahan pola pengelolaan, terutama dengan mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Buleleng, Made Adiana, mengatakan pembagian zonasi dilakukan agar pengerahan personel lebih terarah dan penanganan sampah di lapangan dapat berjalan optimal.

Menurutnya, masing-masing OPD tidak hanya mengerahkan personel, tetapi juga bertindak sebagai koordinator di wilayah binaannya. Gerakan tersebut melibatkan unsur Forkopimda, TNI/Polri, BUMD, kelurahan, pelajar dan masyarakat.

“Aksi gotong royong hari ini difokuskan pada pemilahan sampah dari sumbernya, terutama sampah plastik atau anorganik. Namun, sampah organik yang ditemukan di lapangan tetap kita kumpulkan dan angkut untuk dikelola secara terpisah,” ujar Adiana di sela kegiatan di titik kumpul Sasana Budaya, Jumat (4/9/2026).

Sampah Tak Lagi Dipandang Sebagai Satu Jenis

Pola penanganan sampah dalam kegiatan tersebut dibuat berdasarkan jenisnya. Sampah organik yang terkumpul diarahkan ke Rumah Pengolahan Sampah Organik (Jaga Raga).

Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi disalurkan ke Bank Sampah Induk (BSI) Buleleng untuk selanjutnya dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Adapun sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan akan langsung diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Skema tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada kegiatan memungut dan mengangkut. Pemilahan menjadi bagian penting agar sampah yang masih memiliki nilai guna tidak seluruhnya berakhir di TPA.

Jumat Bersih Jangan Berhenti Setelah WCD

Pemkab Buleleng juga mendorong agar momentum World Cleanup Day tidak hanya menjadi kegiatan tahunan.

Gerakan gotong royong kebersihan disebut akan terus dilakukan setiap Jumat di berbagai wilayah Buleleng. Satuan pendidikan dari tingkat SD hingga SMA/SMK, desa dan kelurahan juga didorong melakukan kegiatan serupa secara mandiri di lingkungan masing-masing.

Adiana mengatakan puncak rangkaian kegiatan World Cleanup Day 2026 di Buleleng dijadwalkan pada Minggu, 20 September 2026.

“Melalui momen World Cleanup Day, kami berharap semangat menjaga kebersihan dapat menyatukan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang budaya, agama maupun profesi demi mewujudkan Buleleng yang bersih dan lestari,” katanya.

Bukan Sekadar Bersih, tetapi Mengubah Kebiasaan

Gerakan bersih-bersih ini pada akhirnya menghadirkan pekerjaan rumah yang lebih besar. Membersihkan lingkungan hanya menyelesaikan persoalan di permukaan jika pola membuang dan mengelola sampah tidak ikut berubah.

Karena itu, pesan utama yang ingin dibangun dari WCD 2026 di Buleleng adalah memulai pengelolaan sampah dari rumah, memilah sebelum dibuang, dan mengurangi sampah yang berakhir di TPA.

Dengan keterlibatan pemerintah, sekolah, masyarakat, dunia usaha hingga aparat kewilayahan, gerakan kebersihan diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan selesai.

Sebab, lingkungan yang bersih bukan hasil dari satu kali gotong royong, melainkan dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *