Angkat Isu Kesehatan Mental, Film “Dunia Seni” Antar Smanser ke Podium Nasional ICONIC 2026

Karya film pendek siswa SMA Negeri 1 Seririt meraih Juara III Nasional lewat cerita tentang Generasi Z dan pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental.
SINGARAJA, IKLIKBALI – Kreativitas pelajar Buleleng kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kali ini, siswa SMA Negeri 1 Seririt (Smanser) berhasil membawa pulang Juara III Nasional dalam ajang Intelligent Communication and Innovation Competition (ICONIC) 2026 melalui film pendek berjudul “Dunia Seni”.
Kompetisi tersebut digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Babak kompetisi berlangsung pada 26 Agustus 2026 di Kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan diikuti peserta dari sejumlah daerah di Indonesia.
Bukan sekadar mengejar sisi artistik, film “Dunia Seni” mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda, yakni kesehatan mental Generasi Z. Melalui cerita yang dikemas secara kreatif, para siswa berusaha menyampaikan pesan mengenai pentingnya memahami kondisi diri, membangun kepedulian, dan tidak mengabaikan persoalan yang dihadapi generasi muda.
Karya tersebut sekaligus membuktikan bahwa ruang kreativitas di sekolah dapat menjadi media bagi siswa untuk menyuarakan gagasan sosial. Pesan yang diangkat menjadi salah satu kekuatan karya Smanser dalam berkompetisi di tingkat nasional.
Dikerjakan Lintas Angkatan
Di balik pencapaian tersebut terdapat proses produksi yang tidak singkat. Tim Smanser menjalani berbagai tahapan, mulai dari merancang ide cerita, menyusun naskah, membuat storyboard, melakukan pengambilan gambar, hingga menyelesaikan proses penyuntingan.
Tantangan tersendiri muncul karena anggota tim berasal dari tiga jenjang kelas berbeda, yakni kelas X, XI, dan XII. Kesibukan akademik serta perbedaan jadwal membuat proses produksi membutuhkan koordinasi dan komitmen yang kuat dari seluruh anggota.
Tim Smanser terdiri atas I Ketut Diki Tria Raharja Kori (X.4) sebagai sutradara. Posisi kameramen sekaligus editor dipercayakan kepada I Made Satrya Palguna (XII.9) dan Komang Leo Triyatna Putra (X.7). Sementara penulisan naskah dikerjakan I Gusti Ayu Dara Cinta Ningrum (XI.7) bersama I Gusti Ayu Made Risma Satya Dewi (XII.9).
Adapun para pemeran dalam film “Dunia Seni” yakni Ni Luh Aura Natania (XII.3), Nyoman Elo (XII.3), Putu Graceya Anastazya Putri (XII.1), Ni Kadek Dinajyotee Ravini Putri (X.5), I Putu Rhadit Mahesa Mandala Putra (X.3), serta I Gusti Ayu Made Risma Satya Dewi (XII.9).
Salah satu anggota tim, I Made Satrya Palguna, mengungkapkan rasa syukurnya dapat terlibat dalam proses produksi hingga akhirnya mampu meraih prestasi nasional. Menurutnya, pengalaman selama mempersiapkan karya justru menjadi bagian paling berharga dari kompetisi tersebut.
“Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk berkarya bersama tim dan menyelesaikan film ini hingga tuntas. Selama prosesnya kami belajar bekerja sama, saling memahami, dan menghadapi berbagai tantangan bersama. Pengalaman ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami,” ungkap Palguna.
Ia menambahkan bahwa proses produksi membuat para anggota tim belajar membagi tanggung jawab dan menghargai peran masing-masing. Perbedaan kelas dan kesibukan tidak menjadi penghalang untuk menyelesaikan karya secara bersama-sama.
Kreativitas dan Pesan Sosial
Pembina Tim Smanser, Putu Aditya Mahendra, S.Kom., mengapresiasi kerja keras seluruh siswa yang terlibat. Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan kreativitas, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja dalam tim.
Menurutnya, keberhasilan meraih Juara III Nasional menjadi bukti bahwa siswa memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik, khususnya dalam komunikasi, produksi media, dan kreativitas.
“Prestasi ini tentu membanggakan. Namun, yang lebih penting adalah proses yang mereka jalani. Mereka belajar mengubah ide menjadi karya, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, dan berani membawa karya tersebut ke tingkat nasional,” ujar Aditya.
Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi pengalaman sekaligus motivasi bagi siswa lainnya untuk berani mengeksplorasi kemampuan dan mengikuti berbagai kompetisi yang dapat menjadi ruang pengembangan diri.
Film “Dunia Seni” juga memperlihatkan bagaimana karya siswa dapat menjadi sarana komunikasi yang menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Isu kesehatan mental Generasi Z yang diangkat menunjukkan keberanian para siswa untuk mengangkat tema yang relevan dengan kehidupan generasi mereka.
Ke depan, Tim Smanser diharapkan tidak berhenti pada capaian Juara III Nasional. Pengalaman mengikuti ICONIC 2026 dapat menjadi pijakan untuk terus mengembangkan kemampuan dalam penulisan cerita, sinematografi, penyuntingan, komunikasi, maupun produksi karya kreatif lainnya.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi tambahan motivasi bagi keluarga besar SMA Negeri 1 Seririt untuk terus membuka ruang kreativitas bagi siswa. Dengan dukungan sekolah dan pembinaan yang berkelanjutan, karya-karya pelajar diharapkan mampu semakin banyak tampil dan bersaing di tingkat nasional.
Capaian di ICONIC 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas pelajar Buleleng mampu berbicara di panggung nasional. Lebih dari sekadar sebuah penghargaan, “Dunia Seni” menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan karya kreatif sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, mengangkat isu di sekitar mereka, dan memberikan pesan positif kepada masyarakat.
