25/08/2026

Uriping Rasa Menghidupkan Buleleng Festival 2026, 150 Penari Buka Perayaan Budaya Bumi Panji Sakti

0
IMG-20260818-WA0025

Dari panggung seni hingga UMKM dan ruang digital, Buleleng Festival 2026 menjadi pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan wajah Buleleng di tengah perubahan zaman.

SINGARAJA, IKLIKBALI — Malam di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Selasa (18/8/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar kemeriahan sebuah festival, tetapi sebuah pesan tentang bagaimana budaya terus mencari ruang untuk hidup di tengah perubahan zaman.

Sebanyak 150 penari membuka Buleleng Festival 2026 dengan pertunjukan kolaborasi yang megah. Mereka tidak tampil dalam satu titik, melainkan mengisi tiga sisi kawasan Praja Mandala.

Lima puluh penari Wiranjaya berada di bagian barat, 50 penari Palawakya di utara, sementara 50 penari Truna Jaya mengambil posisi di sisi timur.

Pertunjukan tersebut membawa simbol “Sunia Campuhan Parisuda”, sebuah gambaran penyucian pada titik pertemuan dua aliran air. Maknanya kemudian diterjemahkan menjadi perjalanan menuju kejernihan pikiran dan ketenangan batin.

Dari tiga penjuru kawasan, gerak para penari seolah menyatukan ruang. Pertunjukan itu menjadi pembuka bagi sebuah perayaan yang sejak awal tidak ingin berhenti pada kemeriahan panggung.

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra kemudian secara resmi membuka Buleleng Festival 2026. Suara meriam yang ditembakkan ke langit menjadi penanda dimulainya festival yang berlangsung hingga 23 Agustus 2026.

Di tengah suasana tersebut hadir Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Sekretaris Daerah Buleleng Gede Suyasa, serta masyarakat dan undangan lainnya.

Ketika Budaya Tidak Sekadar Ditonton

Bagi Bupati Sutjidra, Buleleng Festival bukan hanya agenda pertunjukan tahunan. Festival ini dirancang sebagai ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap identitas dan kebudayaan Buleleng.

Tema “Uriping Rasa” menjadi ruh utama penyelenggaraan tahun ini.

Uriping dimaknai sebagai hidup, sementara rasa berkaitan dengan hredaya atau hati. Dari sana, budaya ditempatkan bukan sekadar sesuatu yang dipertontonkan, tetapi nilai yang dirasakan dan diwujudkan dalam kehidupan.

“Makna uriping yang berarti hidup dan rasa berarti hredaya/hati menegaskan bahwa budaya bukan sekedar tontonan, melainkan pengalaman batin yang membimbing tindakan kita sesuai dengan dharma,” ujar Sutjidra.

Pesan itu kemudian diperluas menjadi ajakan untuk menghormati leluhur, mencintai tanah kelahiran, bangga terhadap identitas, menjaga lingkungan dan sesama, serta memastikan nilai-nilai luhur tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Buleleng sendiri memiliki perjalanan panjang. Dari masa kerajaan hingga era digital, perubahan zaman terus berlangsung. Namun, menurut Sutjidra, perubahan tidak semestinya membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.

“Kita ingin menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika zaman berubah,” tegasnya.

Justru sebaliknya. Tradisi harus mampu menemukan bentuk dan ruang baru agar tetap hidup, relevan, serta dekat dengan generasi masa kini.

Festival yang Menyebar ke Banyak Ruang

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam konsep festival yang tidak terpusat hanya pada satu panggung.

Zona A di kawasan Tugu Singa Ambara Raja menjadi panggung utama. Sementara Zona C berada di kawasan Catus Pata Singaraja. Pertunjukan seni juga mengambil tempat di kawasan Kantor BKAD dan DPRD Kabupaten Buleleng.

Ruang festival juga bergerak ke sektor ekonomi kreatif.

Gedung Wanita Laksmigraha dan Galeri Singa Ambara Raja menjadi etalase produk UMKM, kriya, serta kerajinan tangan. Di Ruang Terbuka Hijau Rumah Jabatan Bupati, masyarakat dapat melihat Buleleng Digital Expo.

Sementara Jalan Veteran dan kawasan sekitarnya dipenuhi aneka kuliner. Di Wantilan Sasana Budaya, gagasan dan pengetahuan dipertemukan melalui sarasehan serta seminar.

Dengan demikian, festival tidak hanya menghadirkan seniman di atas panggung. Di dalamnya terdapat pelaku UMKM, perajin, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, insan teknologi, hingga masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

“Keseluruhan rangkaian ini kita hadirkan sebagai sebuah ekosistem kebudayaan yang tidak hanya berbicara mengenai seni pertunjukan, tetapi juga tentang pengetahuan, kreativitas, ekonomi masyarakat, teknologi dan masa depan Buleleng,” terang Sutjidra.

Pesan untuk Generasi Muda

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada generasi penerus.

Karena itu, Bupati Sutjidra secara khusus mengajak generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadikannya bagian dari identitas dan kehidupan mereka.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para seniman dan pelaku budaya yang terus berkarya serta menjaga adat dan kesenian Buleleng.

“Teruslah berkarya menjaga tradisi dan melakukan inovasi. Kepada generasi muda kenali, cintai, dan banggalah pada budaya anda. Ketika rasa terhadap budaya tetap hidup, identitas kita terjaga dan budaya menjadi kekuatan pembangunan,” ungkapnya.

Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam penyelenggaraan festival yang memadukan kesenian tradisional dan modern. Tradisi tidak ditempatkan berseberangan dengan inovasi, tetapi dipertemukan agar keduanya dapat berjalan bersama.

Koster: Gelora Kesenian Bumi Panji Sakti Harus Terus Menyala

Gubernur Bali Wayan Koster melihat Buleleng memiliki karakter kesenian yang kuat dan khas. Pengaruh gaya kesenian Buleleng terhadap perkembangan kesenian Bali, menurutnya, harus terus dirawat dan dikembangkan.

Pembukaan Buleleng Festival sekaligus menjadi momentum untuk memastikan regenerasi seniman terus berjalan.

“Mari kita teguhkan komitmen untuk melanjutkan gelora kesenian di Bumi Panji Sakti. Mari kita pacu semangat dan kreativitas dan secara konsisten melakukan regenerasi seniman-seniman muda,” kata Koster.

Koster juga mengapresiasi Pemkab Buleleng beserta seluruh jajaran yang telah menggagas dan mempersiapkan festival tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menguatkan dan memajukan kebudayaan Bali, sejalan dengan Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020.

“Semoga kegiatan ini mampu memacu semangat berkesenian, kreativitas dan inovasi bagi para seniman dan insan kreatif lainnya, namun tetap bepegang teguh pada akar kebudayaan Bali sebagaimana yang telah diwariskan oleh leluhur dan lelangit Bali,” tutupnya.

Menjaga Rasa, Menjaga Identitas

Enam hari Buleleng Festival 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak pertunjukan yang dipentaskan atau berapa banyak orang yang datang.

Lebih jauh, festival ini menjadi upaya untuk menjawab satu pertanyaan penting: bagaimana budaya tetap hidup ketika zaman terus berubah?

Jawabannya dirangkum dalam tema “Uriping Rasa”. Selama rasa terhadap budaya masih hidup, maka identitas tidak akan mudah hilang.

Dari 150 penari yang membuka festival, panggung-panggung kesenian, produk UMKM, kuliner, ruang digital, hingga diskusi kebudayaan, Buleleng sedang memperlihatkan bahwa tradisi dan masa depan tidak harus dipertentangkan.

Keduanya dapat berjalan beriringan.

Dan dari Bumi Panji Sakti, pesan itu kembali digaungkan: budaya akan tetap hidup ketika masyarakatnya tidak hanya mengenal warisan leluhur, tetapi juga memiliki rasa untuk menjaga, mencintai, dan menghidupkannya kembali.

Pada akhirnya, Buleleng Festival 2026 diharapkan menjadi pijakan untuk mempercepat terwujudnya ruang pemuliaan alam, manusia, dan kebudayaan Bali sekaligus mendukung visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *