144 Pelari Susuri Keindahan Sudaji, Fun Run 2026 Angkat Potensi Wisata dan Kepedulian Lingkungan
Sport tourism berbasis desa dipadukan dengan panorama persawahan, budaya lokal, kuliner, serta aksi penaburan eco enzyme untuk menjaga kelestarian lingkungan.
SINGARAJA, IKLIKBALI – Sebanyak 144 pelari menyusuri jalur pedesaan Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, dalam gelaran Sudaji Peace Trail Fun Run 2026, Minggu (20/9). Mengusung konsep olahraga berbasis alam, kegiatan lari sejauh 6 kilometer ini tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati panorama persawahan, tetapi juga mengajak peserta mengenal kehidupan masyarakat desa sekaligus berpartisipasi dalam aksi kepedulian lingkungan melalui penaburan eco enzyme di sejumlah kawasan Sudaji.
Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Desa Sudaji tersebut secara resmi dilepas oleh Ketua TP-PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, bersama Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali, Gede Muliawan Arya, dan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna.
Dalam sambutan Gubernur Bali yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarjaya, pemerintah provinsi menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sudaji, masyarakat, komunitas, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, Sudaji Peace Trail Fun Run 2026 memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas olahraga. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi alam dan kehidupan masyarakat pedesaan sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal.

“Ini adalah cara kita berolahraga sambil menikmati alam, mengenal kehidupan masyarakat desa, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mengingatkan kembali kepada kita semua tentang pentingnya menjaga lingkungan dan budaya Bali,” ujarnya.
Desa Sudaji dinilai memiliki modal besar dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Keindahan hamparan sawah, suasana pedesaan yang asri, aktivitas pertanian, serta kekayaan tradisi dan budaya menjadi daya tarik yang dapat dikemas sebagai pengalaman wisata khas Bali.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak menikmati Sudaji dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Tidak hanya berlari di tengah udara pagi dan bentang persawahan, mereka juga berkesempatan berinteraksi dengan warga, mengenal kuliner setempat, serta melihat potensi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Bali bukan hanya tentang tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga kehidupan budaya, alam, dan masyarakat yang memberikan pengalaman kepada setiap wisatawan,” tegasnya.
Lebih lanjut, pengembangan sport tourism di Bali diharapkan tidak mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan. Keindahan alam yang menjadi daya tarik wisata harus diimbangi dengan kesadaran bersama untuk menjaga dan merawatnya.
Konsep ramah lingkungan yang diusung dalam Sudaji Peace Trail Fun Run 2026 menjadi salah satu upaya untuk mengintegrasikan kegiatan wisata dengan kepedulian terhadap alam. Semangat tersebut diwujudkan melalui pengenalan penggunaan pupuk organik, pelestarian ekosistem persawahan, penanaman pohon, hingga penaburan eco enzyme sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Ini adalah contoh sederhana bahwa sport tourism dapat berjalan bersama dengan environmental sustainability,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga sejalan dengan semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menekankan pembangunan dengan menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, manusia, serta kebudayaan.
Dalam konteks pariwisata Desa Sudaji, persawahan dan sistem subak tidak hanya menjadi objek yang dinikmati wisatawan. Keduanya juga merupakan warisan pengetahuan, nilai kebersamaan, serta kearifan lokal masyarakat Bali dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Pemerintah Provinsi Bali berharap Sudaji Peace Trail Fun Run dapat terus dikembangkan dan masuk dalam Calendar of Event pariwisata berbasis desa di Kabupaten Buleleng. Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan, komunitas olahraga, hingga wisatawan dengan minat khusus untuk berkunjung dan menikmati potensi Sudaji.
Sementara itu, Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menyampaikan apresiasi dan dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng terhadap penyelenggaraan kegiatan yang digagas Pokdarwis bersama kelompok tani Desa Sudaji tersebut.
Ia menyebut Sudaji sebagai salah satu desa wisata unggulan di Buleleng yang telah dikenal luas dan berhasil meraih berbagai penghargaan, termasuk di tingkat internasional.
“Ini tentu menjadi sebuah aset bagi Kabupaten Buleleng untuk bagaimana mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Desa Sudaji, khususnya dari kelompok sadar wisata,” ujarnya.
Menurut Supriatna, keberhasilan mengembangkan potensi desa wisata perlu diikuti dengan komitmen dan konsistensi agar manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat. Ia berharap Sudaji mampu mempertahankan semangat tersebut sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa wisata lainnya di Buleleng.
“Semoga terus berkomitmen dan konsisten menjadikan Sudaji ini sebuah desa wisata dan juga bisa memberikan inspirasi buat desa-desa yang lain yang ada di Kabupaten Buleleng,” harapnya.
Supriatna menambahkan, kolaborasi antara kelompok sadar wisata, kelompok tani, masyarakat, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan potensi desa. Melalui dukungan terhadap kegiatan berbasis komunitas seperti ini, pengembangan pariwisata diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Sudaji Peace Trail Fun Run 2026 memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan desa sekaligus membangun kesadaran menjaga lingkungan. Perpaduan aktivitas lari, keindahan alam, budaya, dan keterlibatan masyarakat menjadikan kegiatan ini lebih dari sekadar ajang mencapai garis finis.
Dari setiap langkah yang menyusuri persawahan Sudaji, tersimpan pesan bahwa pariwisata berkelanjutan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Ketika olahraga, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat berjalan beriringan, potensi desa dapat berkembang tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatannya.
